Sumarno HP
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2015

BROKOHAN

TRADISI SESUDAH KELAHIRAN BAYI
Oleh  Sumarno Hp

Ketika penulis mengucapkan selamat kepada seorang teman atas kelahiran cucunya yang pertama dengan mengatakan, “ Selamat atas kelahiran cucu.  Wah, pasti seru, anak-anak akan gembira memanggil kawan-kawan  sekampung, ‘ bancakan, bancakan…’ Teman itu segera memotong, “ Belum, siang ini hanya mau brokohan. Baru saja bayinya  lahir pagi tadi di rumah bersalin.”  Berdasarkan pengamatan penulis dewasa ini acara brokohan sudah jarang dilakukan di kota maupun di desa karena sedikit yang tahu tentang brokohan atau karena alasan lain.
Acara brokohan tidak banyak disinggung dalam karangan atau buku-buku pustaka. Dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna  karya KPH Cakraningrat hanya dimuat satu alinea kecil tentang brokohan (hal..40). Ini tidak berarti brokohan tidak penting karena tidak menjadi ritus dalam tradisi Jawa. Bagi penulis  nilai-nilai tradisi yang baik perlu digali dan dilestarikan. Penerapannya tentu disesuaikan dengan perubahan zaman. Penulis mencoba menggali lebih banyak  melalui studi pustaka dan dengan menemui dua orang informan yang tahu tentang brokohan yakni Ibu Feri dari Prambanan dan ibu Siti Rahayu (63 th) asal Yogyakarta yang kini tinggal di Desa Bacem Langenharjo, yang sering diminta orang untuk memasak menyiapkan  brokohan, selapanan, dsb.

Tujuan Brokohan
Istilah brokohan adalah kata Jawa maka  tidak ditemukan dalam kamus Bahasa Indonesia misalnya kamus WJS Purwadarminta (Jakarta BP 1951) Kara brokohan pun tidak ada hubungannya dengan kata barokah yang menjadi berkat dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Bahasa Jawa (Jawa-Jawa) karya S.A. Mangunsuwito  (Cet 1 Bandung, YRama Widya 2002) terdapat kata brokohan yang berarti slametan bayi sing entas lahir  Menurut keterangan informan tujuan brokohan adalah menyatakan syukur kepada Sang Pencipta atas keselamatan ibu dan bayi yang baru lahir.
Zaman sekarang persalinan ditangani oleh bidan atau dokter di rumah bersalin. Kematian ibu dan bayi dalam persalinan sekarang sangat kecil. Tetapi zaman dahulu persalinan di desa hanya dibantu oleh seorang dukun beranak yang tidak punya sertifikat. Angka kematian ibu dan bayi lebih banyak. Orang Jawa berkata bahwa melahirkan itu toh nyawa, artinya  nyawa taruhannya.  Seluruh keluarga akan sangat gembira mendengar kelahiran bayi.yang lancer dan selamat.  Maka tidak lama kemudian, hari itu juga, keluarga si bayi menyatakan syukur kepada Sang Pencipta dengan mengadakan brokohan.

Makanan Brokohan
Dalam Kitab Primbon hanya dituliskan: “Selamatan brokohan setelah bayi lahir adalah: telur mentah, sejumlah neptu hari dan pekan (pasaran) si bayi, gula merah dawet (cendol) dan nasi yang diletakkan di atas nyiru dengan lauk daging jerohan dan mata serta pecel ayam dan sayur menir. Menurut informan penulis sebenarnya ada variasi-variasi berdasarkan tempat dalam soal makanan yang disiapkan. Telur mentah diganti  telur goreng. Saat kelahiran, pagi, siang sore, malam, hari sapta wara dan pancawara, misalnya sabtu legi jam 06.00 tanggal bulan tahun Masehi dan Tahun Jawa perlu dicatat. Gula merah dan cendol boleh diganti dengan minuman lain. Sedangkan nasi dan lauk dapat dibuat bervariasi sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga.
Hidangan brokohan menurut informan adalah nasi ambeng  yakni nasi putih dibentuk dengan waskon (bukan seperti tumpeng) ditaruh dengan alas daun pisang pada tempat datar seperti tampah, nampan, tambir, nyiru, dsb. Lauknya berupa sambal goreng tempe, kacang panjang yang dipotong-potong,  krecek/rambak, tempe goreng, thontho, yakni lauk yang terbuat dari tepung beras dan kelapa muda yang diparut di bumbui brambang bawang tumbar dilumatkan dibentuk butiran-butiran sebesar kelereng yang digoreng, ditambah dengan rempeyek kacang, rempeyek kedelai putih ikan asin, krupuk merah, telur dadar.

Orang yang hadir dalam acara brokohan
Orang tahu bahwa soal kehamilan dan kelahiran pertama-tama adalah persoalan kaum ibu. Maka yang menyiapkan dan yang hadir di situ terutama adalah kaum ibu. Di sini tidak dipakai istilah bancakan yang dialamatkan bagi anak-anak dan orang dewasa seperti pada sepasaran (satu pekan) atau selapanan atau 35 hari sesudah kelahiran. Pada acara makan brokohan ini biasa diadakan doa yang dipimpin oleh dukun atau seorang ibu tetangga keluarga. Kemudian nasi dan lauk itu dibagi-bagi ditaruh dalam bungkus daun untuk dibawa pulang ibu-ibu  yang hadir.
 Pada malam harinya kaum laki-laki datang bertandang ke rumah memberi salam kepada ayah si bayi. Mereka duduk santai di tikar sambil minum dan makan snack atau kudapan yang disediakan. Nama bayi sebenarnya sudah tersedia hanya belum diumumkan. Nama itu diperoleh berdasarkan pedoman penamaan yang sudah lazim dipakai orang di masarakat. Setelah itu pada acara sepasaran nama bayi yang dipilih dengan  makna dan harapan yang baik diumumkan kepada keluarga dan para tetangga.

Tembang Dhandhanggula
Tembang dhandhanggula sudah banyak dikenal orang, Daripada hanya sekedar bercanda ria, orang dapat membawakan tembang pada saat tetangga bertemu dan berjaga di rumah keluarga bayi. Orang boleh membawakan tembang  dengan berbagai gaya. Kita pun dapat menciptakan tembang itu sendiri. Diberikan contoh di sini sebuah dhandhanggula dari penulis:sebagai pembuka pertemuan malam sehabis kelahiran bayi.

Dhandhanggula Purwaning Atur
Purwaning atur panyuwun mami,
Awit Gusti wus  paring nugraha
Putra jalu (westri) ciniptakke
Lumantar rama-ibu
Sampun lahir lancar lestari
Kulawarga sung  sedya
Atur puji syukur
Nyuwun berkah lan pandonga
Dhateng Gusti saha para rawuh sami
Mrih wilujeng ing  gesang

Tembang di atas dapat diterangkan demikian sebagai pembuka acara paska kelahiran anak kami. Tuhan Allah telah memberikan anugerah-Nya, anak Laki-laki (perempuan) kepada kami. Sudah lahir dengan selamat. Baik bayi dan ibu sehat. Keluwarga ingin mengucapkan puji syukur. Mohon berkah Tuhan dan doa  kepada para tamu sekalian, semoga selamat dan sejahtera dalam kehidupan.

Berikut ini adalah dhandhanggula oleh KPH Cakraningrat. Dengan keterangan dari penulis.

Dhandhanggula
(1)
Ana kidung akadang premati,
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun
Adi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anggenakken  pangarah

(2)
Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken kersane
Puser kuwasanipun
Nguyu-uyu sembawa mami
Nuruti ing panedha,
Kuwasanireki
Jangkep kadangipun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(3)
Yeku kadangingsun kang umijil
Saking margatna sareng samya
Sadina awor enggone
Sekawan kadangingsun
Ingkang ora umijil saking
Margatna punika
Kumpule lan ingsun
Dadya makdumsarpin sira
Wewayangan ing dad  reke dadya kanti
Saparan dhatan pisah

Oleh KPH Cakraningrat


Uraian
(1)
Adalah tembang tentang saudara yang harus dipelihara dengan baik, hanya  tumbuh hidup dalam kekuatanya,  mengadakan apa yang dikehendaki. Saudara tua kawah (air yang keluar sebelum anak lahir), yang memelihara di badan kita, mendatangkan kehendak., Adapun ari-ari adalah  saudara muda (adik) yang melindungi dalam laku kelahiran  ini, sebagai pengarah

(2)
Anak darah di siang dan malam,
menemani kerja Allah yang berkuasa, menjadikan kehendaknya,
Puser yang punya kuasa
melaraskan perasaanku,
memenuhi permintaan menurut  kuasanya ini, lengkap dengan saudaranya empat,  yang kelima penjuru sudah menjadi satu, menyatu dalam diri pribadi.

(3)
Ya itulah saudaraku yang keluar
dari dalam rahim bersama-sama,
sehari berkumpul  campur  tempatnya
empat saudaraku
yang tidak keluar dari rahim itu. bertemunya dengan  diriku
Jadilah  dia makdumsarpin
Bayangan dalam  zat ini menjadi pegangan,
kemana saja tidak berpisah.


Barangkali oleh karena berbagai kesibukan dan individualisme dalam kehidupan masyarakat modern yang semakin kuat, pertemuan malam seperti yang dulu terjadi di masyarakat pedesaan, sekarang tidak terjadi terutama di kota-kota. Namun kalau memungkinkan brokohan ini pun tetap baik juga untuk dilakukan yang disesuaikan dengan keadaan setenpat.

Solo Baru, 5 Mei 2015



Selasa, 24 Maret 2015

PENAMAAN WANITA JAWA


NAMI PAWESTRI JAWI
Sumarno Hadipuspito

Dewasa ini ada banyak nama anak yang sangat beragam dan tidak mudah dengan segera orang mengenali kesukuan atau kebangsaannya. Orang boleh berargumen bahwa sekarang zaman kebebasan, terserah orang tua dalam mencari dan memberi nama bayinya. Boleh juga kita membahasnya di sini bukan? Penulis mencoba menyusun sebuah tembang untuk dipakai sebagai panduan, yang mungkin tidak lengkap, dalam mencari dan memberi nama bayi.

Kita sampaikan beberapa fakta dahulu. Seorang kawan dipanggil dengan nama Pak Legi. Nama itu bagus sesuai dengan salah satu pedoman adat Jawa yakni seorang anak laki-laki dapat diberi nama hari weton (lahir) anak itu. Jadi anak laki-laki yang lahir pada hari legi (nama hari tahun Jawa) diberi nama penanda laki-laki seperti legiman, legimin, legiyana,dsb. Ternyata kawan itu namanya Legiyem. Ada lagi nama Julia Perez yang dapat ditafsirkan sebagai Julia isteri Perez. Benar dan bagus juga kalau itu bukan orang Jawa Timur. Sedang nama Dian Sastrawardoyo benar dan bagus jika menunjuk perempuan Jawa putri Sastrowardoyo. Ada juga perempuan yang namanya panjang sekali sehingga namanya tidak cukup untuk dituliskan dalam kotak-kotak form surat. Mungkin ada yang berpendapat bahwa untuk apa mempersoalkan nama. Kita ingat kata W Shakespeare, “What is a name?” Apa arti sebuah nama? Kalaupun nama perempuan itu panjang dan indah, akhirnya kelak akan dipanggil “Bu Bejo” jika si suami namanya Bejo.

Penulis mencoba menyusun tembang panduan penamaan wanita Jawa dalam bentuk KINANTHI di bawah ini. Di sini diberikan contoh

KINANTHI laras pelog pathet barang.

 2   3     3     3    3      3   3    23
Se-kar ki-nan-thi   pi-tu-  tur
3       2       2        2         2    2      32    7
Tu-mrap wong kang pa-ring  na-   mi
6        7    2   2       2   2    23    2
Kang mi-tu-rut   a-dat  Ja-  wa
7     6   6        6    7    5      65     32
Ge-ga-ran   ra-sa kang a-     di
5        6     6    6  6     6     56
Mrih bek-ti    i-bu   ba- pa
6     5       5    5        56    53   56   6
Ne-ga-   ra  bang-sa    lan  Gusti


KINANTHI PAWESTRI
(1)   
Tetenger putri tumurun
Asma nugroho kang adi
Ari, wulan, angka warsa
Kadya Rubi anggraheni
Yuni Yuli Agustina
Eka catur Pancawati


(2)   
Kusuma sesotyanipun
Kemala, Dyah, Ratnasari
Anindya sari puspita
Anggrek padmi, lan melati
Sekar endah manca warna
Mawar tunjung wijayanti

(3)   
Tyas asih lan alam agung
Rinipta murbeng dumadi
Surya, candra kang manuntun
Warsa, wulan ngetang ari
Galuh Ayu Sri Kirana
Dian fajar mayasari


(4)   
Urip mulya ing panyuwun
Widya Evi Sri Susanti
Gendhis, Sinta, Santi, Ratna
Rahayu, Dewi, Mulyati
Tuhu ing tyas  samya tresna
Setya sami luhur budi

(5)    
Laras  ing agaminipun
Asma westri wus cinawis
Sakinah, solekah, rohmah
Zulaikah, umi Amini
Laksmini, Parwati, Praba
Cina landa karsa njawani

Sumarno Hp


Parafrase Kinanthi :
(1)   
Bagi anak perempuan perlu dicarikan nama yang baik dan indah. Dapat dipilih dan dibentuk dari kata nama hari, bulan angka. Misalnya, nama bulan: Juniati, Julia, Agustina; nama hari : Rubinem (Rabu) Anggraheni (Anggara /Selasa); angka : eka, dwi, tri, catur panca, dsb.
      (2)
Nama untuk wanita dapat diambil dari  kata yang bermakna sifat baik seperti bunga, perhiasan: kemala (lemah lembut). diah ratna, anindya (tanpa cacat, enak perilakunya), puspita (bunga), anggrek, bunga padma, mawar, tunjung, wijayakusuma, dsb.

     (3)
Hati penuh kasih, nama benda alam ciptaan Tuhan dapat dipakai sebagai nama perempuan, misalnya: matahari, bulan, bintang yang dipakai pedoman bagi manusia menghitung hari dan bulan. Contoh: suryani, suryanti, wulandari, kirana (sinar) dia, fajar, maya

(4)
Nama juga mengandung harapan seperti widya ( pintar, bijak) evi-eva (perempuan keibuan), sri susanti, indah, cantik, suci) gendhis (manis) sinta (sejuk) ratna (permata indah) rahayu (selamat) dewi, mulyati ( berhati mulia), sungguh hatinya baik, saling mencintai, setya dan mempunyai budi luhur.

(5)
Nama selaras dengan agamanya. Nama perempuan yang disiapkan mengandung makna Islami: sakinah, soleh, romah, zulaikhak, umi, amini, dsb. Hindu Jawa : laksmini, parwati, prabandari, dsb. Nama dari Cina dan Landa (baca Eropa) disesuaikan dengan Jawa.
                                                                      

Solo Baru, Sabtu Wage Maret  2015

Selasa, 02 Desember 2014

TRADISI SELAPANAN BAYI



TEMBANG SELAPANAN BAYI
Ig.Sumarno Hp
1.    Selapanan
Dalam tradisi Jawa selapanan dimaksudkan sebagai suatu upacara syukur atas kelahiran bayi yang tepat berusia 35 hari. Misalnya, bayi lahir pada Minggu Kliwon maka pesta selapanan tepat pada hari Minggu Kliwon. Seperti kita ketahui bahwa di Jawa orang masih menghitung hari menurut hitungan 7 hari dalam 1 minggu dalam Kalender Masehi yang mengikuti hitungan matahari (sapta wara: Minggu/Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu) dan hitungan 5 hari dalam 1 pasaran dalam Kalender Jawa yang mengikuti hitungan bulan (pancawara : Pahing, Pon, Wage,Kliwon, Legi). Jadi, selapan = 7 x 5 = 35 hari.
Istilah selapan atau salapan dipakai di beberapa tempat dengan pengertian yang berbeda-beda. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1951)  karangan W.J.S Poerwadarminta  kata selapan dalam bahasa Melayu berarti delapan dan dalam bahasa Sunda berarti sembilan. Kata selapan atau salapan dalam bahasa Jawa dimaksudkan 35 hari atau 7 pasaran. Dalam bahasa Jawa sepasar berarti 5 hari, sedang sepekan dalam bahasa Indonesia satu minggu atau 7 hari. Jadi sepasar tidak sama dengan sepekan.
Rupanya  S.O. Robson (1991) tertarik mencatat tradisi slametan dalam First Questions on the Slametan of Java, State University of Leiden. Dia menyebutkan 2 macam slametan, yakni slametan kehamilan dan slametan kelahiran. Slametan atau selamatan kelahiran meliputi: brokohan, puput puser, nyepasari, nyelapanani, nelunglapanani, mitunglapani, nyanganglapani dan nyetahuni. Dewasa ini tradisi slametan yang masih popular dilakukan banyak orang adalah selapanan. Tradisi slametan tedhak siten / tedhak siti atau upacara bayi boleh turun tanah yakni pada saat bayi berusia  tujuh lapan atau slametan mitung lapani yang biasa dilakukan kalangan menengah ke atas, sekarang sudah  jarang dilakukan di masyarakat Jawa.
2.    Sajian Pesta
Dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna karangan KPH Cakraningrat disebutkan bahwa materi selapanan sama dengan sepasaran, yakni:  nasi tumpeng kuluban, bubur merah putih, baro-baro atau jajan pasar. Dijelaskan bahwa setelah berusia 35 hari  (selapan) si bayi dicukur rambutnya, dipotong kukunya, Potongan kuku dan rambut disimpan bersama tali pusar dan tahi kelelawar. Kelak benda-benda itu dengan cara tertentu dapat dimanfaatkan untuk suatu keperluan misalnya penyembuhan atau kesaktian.

Dewasa ini pedoman primbon di atas sudah jarang dipakai. Hidangan yang dibuat disesuaikan dengan keadaan dan keyakinan orang tua si bayi. Pada hari Minggu Kliwon November 2014 ketika penulis menghadiri acara selapanan bayi hanya mendapat hidangan tea, snack (kudapan). Setelah selesai ritual dibagikan kardos berisi nasi putih ayam goreng untuk dibawa pulang.

Acara selapanan bayi dimaksudkan untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Sang Pencipta atas berkat keselamatan yang diberikan kepada bayi dan ibunya. Sejak acara sepasaran sampai selapanan, sanak saudara, tetangga dan teman-teman datang silih berganti memberikan ucapan selamat dan sesuatu hadiah atas kelahiran si bayi. Sekarang rasa syukur, terima kasih dan kegembiraan itu diungkapkan dengan cara berbagi dengan sanak saudara, tetangga, dan teman dalam upacara selapanan bayi.

3.    Tembang Syukur, Pujian dan Harapan.
Untuk menggenapi acara selapanan itu orang dapat membuat tembang syukur, pujian dan harapan. Di sini penulis mencoba membuat tembang yang dapat didendangkan pada saat yang tepat. Tembang ini berupa Mijil, Kinanti dan Dhandhanggula yang dapat dinyanyikan dengan gaya slendro atau pelog. Anda dapat menggunakan pola tembang sebagai berikut:

a.    Mijil : #  3 6 1 1 ‘ 1 2 3 3 3 3 / 2 2 1 1  21   6 / 3 3 3 21 ‘ 1 6 3 3 3 21 / 1  21 2 3 3 ‘ 2 1 1 16  1 / 12  3 3 3 3 2 /  2 2 1 3 1  2.16 /#

b.    Kinanthi: #  6 1 1 1 ‘ 1   212  3 3 / 3 2 2   212  3 3 2  321 / 5 1 2 ‘ 2 2 2 23   12 / 1 6 6 6 5  36  3  532 / 5 6 6 6 6 6  5  56  / 5  5  56  53 3  3  356  6 #

c.    Dhandhanggula : Lihat pola tembang pada karangan yang lalu.

MIJIL JAWA
1.    Wohing katresnan jati wus mijil
Atmaja kinarsa
Kasowanake mring Pangerane
Nyuwun berkah pasamuan ngriki
nirmala jaladri
Miturut Hyang Agung

2.    Kaserata  mijiling  si bayi
dina saptawara
dalah pancawara petangane
Wulan warsa Jawi lan Masehi
Pranata mangsa (a)-di
Wuku candranipun

3.    Selapan ari  katur mring Gusti
Putra kang kabopong
Sanak kadang dedonga rawuhe
Paring nugraha kanthi tyas asih
Tulus kang linadi
Mrih samya rahayu

KINANTHI
1.    Kanthinen kang putra tuhu
Nggula wenthah mrih mandhiri
Toleransi amrih sabar
Pinuji bisa ngajeni
Urip tinampa mrih mulya
Ajar basa ajrih asih

2.    Angaku iku putraku
Nemu margi gesang suci
Rasa adil bisa nampa
Urip jujur tan ngapusi
Sinau ing kasunyatan
Tresna gawe luhur adi

DHANDHANGGULA
Siyang ratri rineksa ing Gusti
sempulur saking karseng Hy Rama
Kaadhep ing janma akeh
Nenggih umating Ma Agung
tulus ingkang mudya semedi
Dadya sasedyanira
Mangun kang linuhur
Peparab Bagus Putra (Ayu Kenya*)
Kang agawe bungahing gesang se-sami
Luwar saking piala
     *) Yen wadon sinebut Ayu Kenya)
Karipta dening Ig Simarno Hp


MIJIL INDONESIA
1.    Buah cinta kasih telah lahir
Putra yang didamba
Dipersembahkan pada Tuhannya
Mohon berkah yang hadir di sini
Laut kasih murni
Menurut Yang Agung

2.    Tulislah hari lahir si bayi
hari tujuh serta
Lima hari Jawa hitungannya
Bulan tahun Jawa dan Masehi
Pranata Mangsa adi
Kata lambang wuku

3.    Tiga lima hari untuk  Gusti
Anak yang dibopong
Sanak saudara datang berdoa
Beri tali kasih hati suci
Tulus yang tersaji
Smoga slamat slalu

KINANTI
1.    Tuntun dengan benar sungguh
Mendidik agar mandiri
Toleransi biar sabar
Dipuji bisa hargai
hidup ditrima adanya
ajar bahsa cinta kasih

2.    Mengaku itu anakku
Temu jalan hidup suci
Keadilan  dirasakan
Hidup jujur tak bohongi
Kan belajar kebenaran
Cinta kan indah abadi

  DHANDHANGGULA
Siang malam Tuhan menjagai
Bertambah sesuai kehendak Bapa
Di hadap tetamu banyak
Umat Pencipta Ma Agung
Tulus semua bakti samadi
Jadilah yang diminta
mencipta yang luhur
Bernama bagus putra/Ayu Prawan
Yang membawa suka cita insan ini
Bebas dari yang jahat




Di sini disampaikan  panduan doa cara Kristiani untuk upacara selapanan yang disunting dari buku A Sandiwan Brata Pr. 1976. tatacara katolik 1, Kanisius 1976.
WILADAH NYUWUN BERKAH
( Sembahyangan Bakda Babaran )
1.    Konjuk lan Pambagya 
Tema :
Miturut padatan Jawa wiladah iku ora ana. Anane sepasaran utawa selapanan..Sembahyangane miturut  cara Katolik bisa karacik dhewe. Dene wiladah iku tinemu ing Kitab Suci. Nalika Sang Timur yuswa 40 dina, brayat suci tindak mring pedaleman suci, nyuwunake miturut angger-angger Nabi Musa

2.    MASMUR 23
Ref: Pinujia ingkang rawuh atas asmaning Pangeran.
Solo:
1)    Sapa sing kepareng ngunggahi ardining Pangeran, utawa sapa sing kepareng ngadeg ing Pedaleman Suci, wong sing  resik tangane lan murni atine. Kang gagasane ora tumuju marang barang kang semu                       Ref: Pinujia …

2)    Yaiki sing bakal nampa berkah saka Pangeran lan nampa pituwas Dalem saka Gusti Allah Sang Juru Slamete, sing kaya mangkono mau wong sing nggoleki Panjenengane, kang nggoleki pasuryan Dalem Allahing Yakub. Ref: Pinujia….

3.    SEMBAHYANG PAMBUKA
Suwawi sami munjuk : Dhuh Allah Maha Agung lan Maha Mirah, Allah Rama Kawula ingkang ambeg tresna,  brayatipun ……lan kawula sadaya ingriki  ngaturaken panuwun awit sedaya kamirahan Dalem,  dene Bapak Ibu……. sampun kaparingan momongan  kanthi wilujeng. Miturut karsa Dalem supados lare kaupakara kanthi sae kados wewarah  kulawarga Nasaret  ingkang bekti ing Gusti. Kaampingana lan kaparingana berkah pitulungan supados saged nggulawenthah kanthi sae krana Sang Kristus Gusti kawula.  Amin
4.  WAOSAN INJIL : Pethikan Injil Suci ( Luk 2: 22-29)
      Nalika tumeka mangsa nucekake dina miturut angger-angger Nabi Musa, Sang Timur kabekta menyang Padaleman Suci ing Yerusalem perlu kacaosake marang Allah kaya kang tinulis ing anggering Pangeran, -sakehing anak lanang kang mbuka guwa garbaning biyung, bakal sinebut suci ing ngarsaning Pangeran lan perlu caos kurban miturut dhawuh anggering Pangeran : dara sajodo utawa piyik loro.
      Kacarita ing Yerusalem ana sawijining  wong aran Simeon . Dene wong mau mursid lan wedi asih mring Allah, nganti-anti rawuhe Sang Panglipuring umat Dalem, apa dene ingayoman ing Roh Suci. Lan Hyang Roh Suci wus paring wangsit, ora bakal ngalami pati sadurunge nyawang Sang Jinebadan ing Pangeran. Krana panuntuning Roh Suci Simeon sowan ing padaleman suci. Nalika rama ibu Dalem mbekta Sri Yesus Sang Putra perlu netepi dhawuh kagem Panjenengane, manut padatane angger-angger. Simeon mbopong Sang Timur karo muji ing Allah, unjuke,  “ Gusti, kalilanana abdi dalem mundur kanthi tentrem kados pangandika Dalem, awit mripat kawula sampun nyipati kawilujengan Dalem, ingkang sampun Sampeyan Dalem cawisaken wonten ngajengipun sedaya bangsa .Pepadhang minangka wedharan dhateng para kapir lan dados kamulyaning kawula Dalem Israel.
Mekaten sabda Dalem Gusti

 HOMILI  CEKAK (Bisa diisi tembang ing dhuwur)
5.   Sembahyangan Umat
6.    Nyembahyangaken Anak : Kidung Adi 43
7.    Rama Kawula……., Sembah Bekti ……Mugi Linuhurna …
8.    Berkah Panutup
Ndherek Dewi Maria
Ndherek Dewi Mariatemtu geng kang manah
Boten yen kuwatosa Ibu njangkung tansah
Kanjeng ratu ing swarga amba sumarah samya
Sang Dewi-Sang Dewi mangestonana 2x
Nadyan manah getera, dipun godha setan
Nanging batos engetnya wonten pitulungan
Wit Sang Putri Maria, mangsa tega anilar
Sang Dewi-Sang Dewi mangestonana 2X

                                                        Solo Baru,   Nov 2014